Kamis, 12 April 2018

Khadijahku


Khadijah Wanita Istimewa

DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Khadijah R.A, istri pertama Rasulullah SAW. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Khadijah

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.
jawab ,menantu Rasullulah...

Wallahu a'lam bisshowab.
Semoga kita senantiasa dilimpahkan dan ditambah rasa cinta kepada mereka mereka, sosok yang dimuliakan Allah beserta seluruh penduduk langit dan bumi.

#repost

Sabtu, 24 Februari 2018

Shalawat atas Rasulullah SAW

Bismillahirrahmanirrahiim.
Allahumma sholli wa sallim 'alaa  Sayyidina Muhammadin.
Salam Mahabbah untuk kalian semua..
Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang anjuran bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Adapun bershalawat kepada baginda Rasulullah SAW adalah sangat penting untuk dilakukan dan banyak manfaatnya untuk kita. Shalawat kepada beliau adalah suatu Amalan yang diajarkan dan diperintahkan langsung oleh Allah dalam firmannya : Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya bershalawat atas Nabi (SAW), wahai orang orang yang beriman berahalawatlah kepadanya..
Shalawat pun menjadi rukun dalam shalat, yaitu pada saat tahiyyat. Yang mana jika tidak kita baca, maka tidak sah sholat kita.
Dengan shalawat menjadi asbab di qabul nya do'a kita, karena sesungguhnya do'a kita terhijab (terhalang) di pintu langit sampai kita membaca shalawat atas Baginda SAW.
Bershalawatlah, sungguh bakhil alias pelit alias kikir yaitu orang yang tidak mau bershalawat kepada Baginda Nabi SAW. Sebagaimana dalam sabdanya : Orang yang pelit ialah orang ketika disebut namaku, dia tidak bershalawat kepadaku.
Macam mana kita bisa mengaku cinta kepada baginda Nabi, kalau kita pelit menyebut namanya. Bukankah seorang pecinta senantiasa menyebut nama yang dicintainya? Shalawat merupakan salah satu perwujudan bahwa kita cinta kepada Baginda Nabi.
Pelitkah kita untuk bershalawat kepada baginda Nabi SAW, sedangkan kelak Allah memberi syafaat melalui beliau dan kita mengharap mendapati syafaat beliau. Kenalkah beliau kepada kita, diakuikah kita sebagai ummatnya? Bagaimana mungkin seseorang memberi suatu yang besar tiada tara kepada orang yang tidak dikenalnya? Dan Rasulullah akan mengenali kita selaku ummatnya sesuai kadar banyak shalawat kita atas beliau SAW.
Apa dalam pikiranmu yang picik beranggapan dengan bershalawat berarti kita lebih mencintai Rasulullah ketimbang Allah SWT. Ohh tidak, dangkal dan picik sekali bila kau berpikir demikian. Justru dengan mencintai Rasulullah berarti kita cinta kepada Allah dan dicintai Allah. Sebagaimana dalam suatu riwayat : Barang siapa yang mencintai Allah maka cintailah aku, barang siapa yang mencintai aku maka ikutilah aku, dan barang siapa yang mengikuti aku niscaya Allah mencintainya.

Demikian pada kesempatan ini, isilah waktu luang kita dengan kegiatan positif yang memberi keuntungan besar bagi kita, salah satunya dengan bershalawat kepada Sang Nabi SAW. Jangan kita pelit kepada beliau, dan kalau bisa jangan mubadzir kan tiap hembusan nafas kita.

Dosa apa yang membuat lidah kita berat menyebut namanya..?
Allahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaihi wa aalihi wa shahbihi wa dzuriyatihi daa'iman abada ilaa yaumiddin.

Pict by : google