Minggu, 25 Desember 2016

Mandi Junub / Jinabat / Akbar

Junub adalah kondisi yang menghalangi kita untuk melakukan beberapa ibadah. Dalam kondisi junub kita tidak boleh shalat, memegang alqur'an, membawa alqur'an, masuk ke dalam masjid, dsb.

Beberapa hal yang menyebabkan kita junub diantaranya yaitu : keluar mani, orang yang sudah mati, berjima' (pertemuan antara kemaluan laki-laki dan perempuan), nifas (setelah melahirkan), dsb.

Adapun hadits tentang tatacara mandi junub /jinabat/akbar dari kedua istri Rasulullah SAW :

Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Dari Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengguyurkan air ke seluruh badannya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadis Kedua:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Selanjutnya, beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

Dari kedua hadits di atas, bisa kita simpulkan bahwa urutan tata cara mandi junub / wajib sebagai berikut:

1. Mencuci kedua tangan

2. Mengambil air dengan tangan kanan, untuk mencuci kemaluan dengan tangan kiri. Kita juga bisa gunakan gayung untuk kegiatan ini.

3. Menggosokkan tangan kiri ke tanah. Tujuannya adalah untuk membersihkan kotoran kemaluan yang menempel di tangan.
Ini bisa kita ganti dengan sabun.

4. Berkumur dan menghirup air ke dalam hidung (istimsyaq), kemudian dilanjutkan dengan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, namun tidak sampai mencuci kaki. Karena bagian ini diakhir mandi.

5. Ketika mulai membasahi rambut, sela-sela pangkal rambut dan basahi dengan air. Sampai seluruh kepala dan rambut basah.

6. Siram kepala 3 kali, dilanjutkan dengan menyiram seluruh anggota badan.

7. Mengguyur air ke seluruh badan dengan mendahulukan yang kanan.
Jangan lupa untuk digosok, terutama di bagian badan yang tersembunyi. Harus dipastikan kalau semua anggota badan kita basah.

8. Berpindah tempat, dan cuci kedua kaki. Jangan lupa, sela-selai jari kaki, sampai kita yakin seluruh kaki kita basah.

Wallahu a’lam bisshowaab..

Rabu, 01 Juni 2016

Lihatlah Kondisi Sesama

Assalamualaikum wr.wb..
Ana hanya ingin sedikit bercerita, mengeluarkan apa yg ada didalam ana punya pemikiran. Sedikit kita mengambil gambaran daripada keadaan sesama kita diantara kita. Ana melihat betapa mirisnya kehidupan sosial ekonomi diantara kita.. Masihkah diantara anda melihat orang orang yg berkehidupan jauh sari pada layak? Bepekerjaan yg jauh dari kata wajar? Pernahkan anda setelahnya meratapi daripada kondisi yg demikian?
Betapa mirisnya kehidupan di negeri yg kaya raya ini, yang melimpah ruah akan segala sumber daya alamnya.
Kaya raya, namun masih banyak penduduk yang amat miris kehidupannya. Walau kita sendiri hidup dalam keadaan pas pasan, namun melihat ada yg jauh dibawah kita apa yang dirasakan? Sepintas.. mata terasa berlinang oleh air mata. Apalagi ketika melihat orang tua yang bekerja dengan pekerjaan yang jauh dari kata pantas dijalaninya. Saya melihat seorang nenek yang sudah tua renta berkeliling berjalan kaki sambil menggendong jamu dagangannya. Jalannya pun terlihat seperti selayaknya orang tua yg memang mestinya dirumahkan. datanglah pertanyaan dalam hati ini, tidak kah ia memiliki anak? Sehingga mesti melakukan pekerjaan yg demikian dengan kondisi yg demikian. Lalu, ingin rasanya membantu namun terkadang apalah daya. Pikirkan bagaimana jika orang tua kita yg seperti demikian?
Hal ini menunjukan, betapa mirisnya kehidupan ekonomi disekitar kita. Sehingga antara pekerjaan dan kondisi, berjalan tidak semestinya.
Lalu, bertanya pula.. kemana pemimpin kita? Kemana kelompom orang yg memiliki harta melimpah?
Bagaimana negeri kita mau maju, kalau masih banyak yang tidak memperdulikan sesama. Cobalah sesekali kita menatap apa yg terjadi dan berlangsung di lingkungan kita.
Semoga saja, Allah memberikan kita kekuatan untuk dapat berubah ke arah yg lebih baik lagi.. Amiin

Kamis, 21 April 2016

Rindu ya Rasulullah

Ana seorang faqir ilmu yang begitu haus akan ilmu agama, dimana kehausan tersebut menyebabkan diri ana semangat untuk menuntut ilmu agama. Dimana pun, kapan pun waktu yang tepat dan kepada siapa pun itu gurunya yang jelas ke sanadan dari pada apa yang diajarkannya. Ana pun bergelut di majlis majlis ilmu, banyak yang ana ikuti.. Awalnya memang ana diajak, namun begitu merasa sehati dengan apa yang diajarkan maka ana pun menyelami ilmu dari sang guru. Banyak guru yang mengajarkan ilmu nya kepada ana, baik itu ustadz, kyai, maupun golongan habaib. Nah, khususnya untuk golongan habaib. Ada guru guru dari golongan ini yang mengajarkan ana banyak ilmu, terutama mengenai akhlaq Rasulullah, pribadi Rasulullah, dan segala hal yang mengenai pribadi daripada Rasulullah Muhammad SAW.. Mereka pun selain mengajarkan juga menanamkan pada muridnya akan harusnya Rasa cinta terhadap Rasulullah SAW. Sehingga muridnya sampai benar benar merasakan begitu cintanya terhadap Rasulullah SAW. 
Ana terkadang merasa iri akan keilmuan kealiman dan nasib mereka (sebagai keturunan Rasulullah SAW), begitu mulianya mereka. Ingin hati ini bisa menjadi bagian daripada mereka ini. 
Singkat cerita, ana pribadi dibuat betanpa cinta dengan Rasulullah, sehingga dengan rasa cinta itu menghadirkan rasa rindu yang amat sangat kepada sang Khairil Basyar. Dengan mereview perjuangan beliau, mengingat ingat betapa besar cinta kasih sayang dan pengorbanan beliau yang diberikan kepada kita selaku umatnya. Ingin melihat wajah beliau, memeluk beliau, mengecup tangan beliau. Namun, apalah daya ana pribadi merasa bahwa betapa menjijikannya diri ana yang bergelimpangan oleh dosa dosa. Kadang dalam keadaan rindu sampai meneteskan air mata, tidaklah mubadzir air mata yang kita teteskan ketika rindu dengan sang Kekasih Allah SWT. Ingin gitu rasanya seperti sebagaimana sebagian orang orang yang diberi kemuliaan untuk senantiasa dapat melihat dan bertemu dengan beliau walau dalam mimpi. siapa yang tidak ingin selaku umat bisa melihat sang panutan? pasti semuanya menginginkan yang demikian. Sudaraku, tegakkanlah selalu sunnah sunnah beliau, dan tidak perlu malu kalau memang kita benar benar mencintai beliau. Namun yang kita perlukan yaitu kemauan dan niat sepenuh hati.

Ya Rabb, ampunilah dosa dosa kami ya rabb.. Berilah kami sedikit saja ya Rabb kemuliaan, agar kami dapat melihat dan menjumpai Rasulullah SAW didunia sebelum di akherat kelak ya Rabb.. Berikanlah izinMu terhadap kami akan hal tersebut ya Rabb.. Sayangi dan kasihi kami ya Rabb. Atas keberkahan Musthofa Rasulullah SAW.. Amiin